Perubahan iklim meningkatkan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem seperti kekeringan, gelombang panas, banjir dan hujan lebat, yang secara langsung dapat merusak tanaman, hewan ternak, dan sistem pertanian lainnya. Misalnya studi global menemukan bahwa cuaca ekstrem menyebabkan anomaly hasil panen untuk jagung, kedelai, padi, dan gandum, menimbulkan risiko bagi ketahanan pangan komunitas petani. Di Brazil, diversifikasi tanaman telah dinilai sebagai salah satu strategi adaptasi penting untuk mengurangi kerentanan terhadap kejadian iklim ekstrem. Di Thailand, dampak seperti hujan yang tidak menentu, kekeringan, dan peningkatan hama sudah mulai dirasakan oleh petani, dan praktik alternatif seperti manajemen air dan diversifikasi tanaman dibutuhkan. Tanah sebagai media utama pertanian juga terdampak: kelembapan tanah berubah drastis akibat banjir dan kekeringan, yang mempengaruhi mikrobioma tanah dan akhirnya produktivitas tanaman.
Infrastruktur pertanian seperti jalan pedesaan, jembatan penyeberangan, waduk irigasi, dan sistem drainase sangat rentan terhadap kerusakan akibat banjir, hujan lebat, dan erosi. Dalam studi di daerah pedesaan kecil di wilayah Mediterania, ditemukan bahwa sekitar 73% dari penyeberangan sungai dan 11,5% panjang total jaringan jalan terendam atau rusak selama badai ekstrem. Studi di Afrika Selatan (oKhahlamba Local Municipality) menunjukkan bahwa petani persepsi bahwa infrastruktur seperti jalan, jembatan, struktur pengendali erosi rusak akibat banjir, embun beku, dan kekeringan yang lebih ekstrem. Selain itu, kerusakan infrastruktur menghambat akses ke pasar dan layanan penting, memperburuk kerentanan masyarakat pertanian. Sistem irigasi dan drainase yang tidak memadai memperburuk dampak banjir dan kekeringan pada tanaman serta meningkatkan risiko kerugian hasil panen.
Karena dampak tersebut, diperlukan strategi adaptasi untuk meningkatkan ketahanan sistem pertanian dan infrastruktur pendukung terhadap cuaca ekstrem. Salah satu strategi adalah memperkuat jaringan agrometeorologi dan sistem peringatan dini agar petani mendapatkan informasi tepat waktu tentang potensi cuaca buruk. Diversifikasi tanaman dan pengelolaan air yang lebih baik merupakan langkah-langkah yang telah terbukti efektif di berbagai wilayah seperti Brazil dan Thailand. Pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur yang tahan terhadap banjir dan iklim ekstrem misalnya jembatan dan jalan yang mampu menahan aliran air besar juga diperlukan. Dukungan lembaga, seperti regulasi yang memadai, pembiayaan adaptasi, dan keterlibatan komunitas lokal, sangat penting untuk implementasi strategi-strategi tersebut. Tanpa tindakan adaptasi dan mitigasi yang cukup, perubahan iklim dan cuaca ekstrem diprediksi akan memperburuk kerugian ekonomi dan sosial di sektor pertanian dan infrastruktur dalam jangka panjang.
Fenomena ini juga terjadi di Indonesia, perubahan iklim dan cuaca ekstrem di Indonesia menyebabkan kekeringan dan banjir yang makin sering, yang merusak tanaman pangan dan mengurangi hasil produksi. Penelitian di lahan sawah tadah hujan di Jawa Tengah dan Jawa Timur menunjukkan bahwa perubahan suhu dan curah hujan dapat menurunkan produksi padi jika kondisi ekstrem makin parah. Kasus usahatani cabai merah di Kabupaten Malang menunjukkan produksi dan pendapatan petani menurun signifikan setelah periode perubahan iklim ekstrem. Di daerah pesisir Indonesia, kenaikan muka air laut dan intrusi garam mengikis lahan sawah dan merusak produktivitas tanaman padi akibat peningkatan salinitas. Selain itu, pola curah hujan yang berubah misalnya awal dan lama musim hujan yang bergeser menyulitkan petani menyesuaikan waktu tanam untuk menjaga indeks pertanaman.
Cuaca ekstrem di Indonesia tidak hanya merusak tanaman, tetapi juga mempercepat kerusakan jalan dan konstruksi infrastruktur transportasi di pedesaan. Ketidakpastian curah hujan dan beban air yang tinggi menyebabkan material jalan mudah retak, ambles, atau tererosi. Pemerintah melalui BMKG dan Kementerian PUPR telah menyatakan akan memperkuat infrastruktur untuk menghadapi banjir dan kekeringan ekstrem, termasuk penyusunan ulang desain jembatan dan jalan. Banjir besar yang melanda Jabodetabek pada Maret 2025 merendam lahan pertanian dan merusak sistem drainase lokal serta mengganggu akses agribisnis ke pasar. Dalam banyak kasus, kerusakan infrastruktur menyebabkan hambatan logistik untuk distribusi pupuk, benih, dan produk panen dari area pedesaan ke pusat kota.
Untuk menghadapi tekanan ini, strategi adaptasi lokal di Indonesia mulai diimplementasikan, seperti regulasi adaptasi perubahan iklim di sektor pertanian yang mendukung ketahanan pangan. Di Kabupaten Malang, petani yang menerapkan tiga atau lebih strategi adaptasi menunjukkan ketahanan pangan rumah tangga yang lebih baik dibandingkan yang sedikit menggunakan strategi. Upaya adaptasi dan mitigasi cuaca ekstrem seperti penguatan irigasi dan pengelolaan air ditekankan dalam kebijakan pertanian untuk menghadapi fenomena El Niño dan La Niña. Pemerintah juga memperkuat kerjasama antara BMKG dan Kementerian PUPR untuk memperkuat infrastruktur dan kesiapsiagaan terhadap banjir dan kekeringan ekstrem. amun tantangan utama adalah keterbatasan regulasi adaptasi — misalnya diversifikasi pangan belum tercakup secara penuh serta keterbatasan kapasitas petani dan pendanaan implementasi adaptasi.
Adaptasi perubahan iklim di Indonesia merujuk pada upaya sistematis untuk mengurangi kerentanan dan meningkatkan ketahanan masyarakat, lingkungan, serta sektor pembangunan (seperti pertanian, infrastruktur, dan kesehatan) terhadap dampak perubahan iklim yang semakin nyata. Indonesia, sebagai negara kepulauan tropis, sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim seperti kenaikan suhu, curah hujan ekstrem, naiknya muka air laut, dan meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologis (banjir, kekeringan, longsor).
1. Kebijakan dan Strategi Nasional
Pemerintah Indonesia telah mengembangkan berbagai adaptasi, di antaranya:
- Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim (RAN-API) sejak 2014, yang memetakan risiko dan rencana adaptasi di lima sektor: kelautan & pesisir, pertanian, air, kesehatan, dan infrastruktur.
- Integrasi adaptasi iklim ke dalam RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) dan RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah).
- Penerbitan Perpres No. 98 Tahun 2021 tentang nilai ekonomi karbon, yang mendorong aksi adaptasi dan mitigasi berbasis pasar.
2. Contoh Adaptasi di Lapangan
Beberapa bentuk adaptasi yang telah diterapkan di Indonesia antara lain:
- Sektor pertanian: penggunaan varietas padi tahan kekeringan, pengaturan ulang musim tanam (kalender tanam), serta penguatan irigasi dan sistem tadah hujan.
- Sektor pesisir: pembangunan sabuk hijau (green belt) dengan mangrove, relokasi pemukiman rentan banjir rob, dan penguatan tanggul laut.
- Sektor air: pembangunan embung dan revitalisasi daerah aliran sungai (DAS) untuk menampung air saat hujan dan mengurangi banjir.
- Perkotaan: pengembangan infrastruktur drainase adaptif, pengendalian pemanfaatan ruang di zona risiko tinggi, serta sistem peringatan dini bencana.
3. Tantangan Adaptasi di Indonesia
Meskipun banyak inisiatif dilakukan, tantangan utama adaptasi di Indonesia mencakup:
- Minimnya pendanaan adaptasi, khususnya untuk pemerintah daerah.
- Kurangnya data iklim lokal dan kapasitas teknis, terutama di desa dan kota kecil.
- Keterbatasan regulasi yang mengikat secara langsung implementasi adaptasi di semua sektor.
- Ketimpangan kesadaran masyarakat tentang perubahan iklim dan bagaimana menyesuaikan perilaku mereka terhadap risiko iklim yang berubah.
4. Peran Komunitas dan Lembaga Internasional
Beberapa program adaptasi berbasis komunitas (Community-Based Adaptation) juga telah berjalan, seperti di kawasan pesisir Jawa dan Nusa Tenggara, dengan dukungan NGO dan donor internasional (UNDP, GIZ, Adaptation Fund). Peran petani, nelayan, dan masyarakat adat dalam mempertahankan pengetahuan lokal juga penting dalam meningkatkan ketahanan adaptif.
Perubahan iklim ekstrem di Indonesia telah berdampak nyata dalam bentuk banjir dan kekeringan yang makin sering, parah, dan tidak terduga. Kedua bencana ini merupakan konsekuensi dari gangguan pola iklim jangka panjang, termasuk peningkatan suhu global, perubahan distribusi curah hujan, serta pergeseran musim yang tidak menentu. Berikut adalah penjelasan dampak utama dari banjir dan kekeringan akibat perubahan iklim ekstrem di Indonesia :
Dampak Perubahan Iklim terhadap Banjir di Indonesia
1. Curah Hujan Ekstrem
Fenomena seperti La Niña yang makin kuat akibat pemanasan global menyebabkan curah hujan sangat tinggi dalam waktu singkat, melebihi kapasitas sungai dan drainase. BMKG mencatat bahwa intensitas hujan harian ekstrem meningkat dalam dua dekade terakhir.
2. Banjir Bandang dan Genangan Luas
Wilayah seperti Jabodetabek, Kalimantan, dan Sulawesi mengalami banjir besar setiap tahun yang disebabkan oleh hujan ekstrem yang dipengaruhi perubahan iklim. Misalnya, banjir di Kalimantan Selatan pada 2021 merupakan yang terparah dalam 50 tahun terakhir, dengan lebih dari 100.000 orang terdampak.
3. Kerusakan infrastruktur dan Permukiman
Jalan, jembatan, sekolah, dan rumah penduduk di daerah rawan sering rusak akibat banjir, terutama di daerah dataran rendah dan bantaran sungai. Infrastruktur drainase di kota tidak dirancang untuk menampung debit air ekstrem.
4. Ancaman Kesehatan Masyarakat
Banjir memicu wabah penyakit seperti leptospirosis, diare, dan infeksi kulit. Genangan air dan sistem sanitasi yang rusak memperburuk penyebaran penyakit.
5. Gangguan Ekonomi dan Pendidikan
Aktivitas ekonomi terganggu karena transportasi terhambat dan barang rusak, sementara sekolah dan kantor harus ditutup selama banjir.
Dampak Perubahan Iklim terhadap Kekeringan di Indonesia
1. Musim Kemarau Lebih Panjang dan Kering
Fenomena El Niño makin sering memicu kekeringan panjang, seperti yang terjadi pada 2015 dan 2023, yang menyebabkan ratusan ribu hektar sawah gagal panen di Jawa dan Nusa Tenggara.
2. Krisis Air Bersih
Sumur dangkal dan mata air banyak yang mengering, terutama di Pulau Jawa, Bali, dan NTT. BPBD beberapa provinsi setiap tahun harus mendistribusikan air bersih ke desa-desa yang kekeringan.
3. Gagal Panen dan Kelaparan Musiman
Kekeringan ekstrem menyebabkan pertanian lahan kering dan sawah tadah hujan tidak bisa berproduksi. Ini berdampak langsung pada pendapatan petani dan ketahanan pangan lokal.
4. Kebakaran Hutan dan Lahan (Karthula)
Kekeringan memperbesar risiko karhutla di Sumatra dan Kalimantan. Ini menyebabkan kabut asap lintas negara dan masalah kesehatan pernapasan bagi jutaan orang.
5. Konflik Sosial
Kekurangan air dan gagal panen bisa memicu konflik horizontal antarwarga atau antarwilayah terkait sumber daya air, seperti yang pernah terjadi di perbatasan NTB-NTT dan antar kabupaten di Jawa Timur.
Faktor Pemicu Tambahan
- Alih fungsi lahan dan deforestasi memperburuk banjir dan kekeringan karena daya serap tanah berkurang drastis.
- Urbanisasi tanpa perencanaan menyebabkan minimnya ruang resapan air di kota.
- Keterlambatan respons kebijakan dan kurangnya sistem peringatan dini memperparah dampak saat bencana terjadi.
Daftar Referensi
Aprilliza, R., & Riana, F. D. (2021). Dampak perubahan iklim terhadap produksi dan pendapatan usahatani cabai merah di Kabupaten Malang. Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis (JEPA), 5(1), 10-20.
Alhudhaibi, R., Wibowo, T. A., & Kusumaningtyas, M. A. (2023). Implementasi pengaturan adaptasi perubahan iklim di sektor pertanian. Jurnal Hidroponik, 2(3), 44–56.
Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP). (2023). Strategi adaptasi dan mitigasi dampak El Niño dan La Niña sektor pertanian di Indonesia.
BMKG. (2023). BMKG dan Kementerian PUPR bersinergi perkuat infrastruktur hadapi banjir dan kekeringan ekstrem.
Estiningtyas, W., & Syakir, M. (2020). Pengaruh perubahan iklim terhadap produksi padi di Indonesia. Jurnal Meteorologi dan Geofisika, 21(2), 45-55.
Jurnal Tambora. (2021). Agroekologi: Model pertanian berkelanjutan dalam menghadapi perubahan iklim. Tambora: Jurnal Ilmiah Mahasiswa, 3(2), 15–24.
Shafa, M., Fitria, D., & Pratiwi, A. D. (2023). Pengaruh strategi adaptasi perubahan iklim terhadap ketahanan pangan rumah tangga petani di Kabupaten Malang. Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis (JEPA), 7(1), 30-40.
Surmaini, E., & Faqih, A. (2021). Kejadian iklim ekstrem dan dampaknya terhadap pertanian tanaman pangan di Indonesia. Jurnal Sains Lahan, 15(1), 1-10.
Syafitri, D., & Harahap, R. (2022). Sektor pertanian dalam menghadapi perubahan iklim: Studi kasus di daerah pesisir. Community Development Journal, 4(1), 22–32.
Universitas Gadjah Mada (UGM). (2023). Cuaca ekstrem bikin konstruksi jalan rentan mengalami kerusakan. Antara News. (2025, Maret). Dampak banjir terhadap lahan pertanian dan strategi mitigasinya. Antara Jatim.