Pendahuluan
Audit laboratorium merupakan mekanisme penting dalam memastikan bahwa data yang dihasilkan dari kegiatan pengujian dan penelitian bersifat andal dan valid. Melalui audit, aspek‐aspek seperti prosedur operasional standar (SOP), dokumentasi pengujian, kontrol kualitas internal, dan akurasi instrumen diperiksa secara sistematis. Menurut studi tentang praktik pengontrolan kualitas internal (IQC) di laboratorium biokimia klinis, audit membantu mengidentifikasi kepatuhan dan area‐area yang perlu ditingkatkan, seperti manajemen sumber daya dan penggunaan materi kontrol kualitas. Audit juga menjadi sarana untuk mengevaluasi sejauh mana laboratorium mengikuti prinsip integritas data seperti lengkap (complete), akurat (accurate), konsisten (consistent), dan dapat ditelusuri (traceable). Dengan demikian, audit laboratorium bukan hanya evaluasi pasif, melainkan bagian dari sistem yang proaktif untuk menjaga mutu hasil data.
1. Audit Laboratorium dan Jejak Data (Audit Trail)
Salah satu elemen utama integritas data adalah kemampuan untuk melacak setiap langkah dalam siklus data dari pengumpulan, pemrosesan, penyimpanan, hingga pelaporan. Audit laboratorium memeriksa jejak audit (audit trail), metadata instrumen, catatan pengujian, dan dokumentasi terkait lainnya untuk memastikan tidak ada data yang terhapus, dimodifikasi secara tidak sah, atau hilang. Dalam artikel “Ensuring Data Integrity: How Audit‐Proof Digital Solutions Offer an Easier Route to Lab Digitalization,” disebutkan bahwa penerapan sistem digital seperti ELN (Electronic Lab Notebook) dan LIMS (Laboratory Information Management Systems) dengan kemampuan audit trail sangat membantu dalam mendukung kepatuhan regulasi dan keamanan data. Jejak audit ini juga penting untuk keperluan audit eksternal, inspeksi regulasi, dan validasi data penelitian ketika hasilnya dikomunikasikan ke pihak luar. Dengan sistem yang baik, laboratorium dapat lebih cepat mendeteksi pelanggaran integritas data dan mengambil tindakan korektif tepat waktu.
2. Audit Sebagai Sarana Edukasi dan Peningkatan Kesadaran
Audit laboratorium juga berperan mendidik dan meningkatkan kesadaran personel laboratorium tentang praktik manajemen data yang benar. Studi dari Singapura menunjukkan bahwa setelah dilakukan audit data, para peneliti dan pemimpin proyek penelitian melaporkan peningkatan signifikan dalam kesadaran terhadap RDM (Research Data Management), kepatuhan terhadap rencana manajemen data (Data Management Plan), dan penerimaan terhadap audit sebagai bagian dari budaya lab. Audit membantu mengungkap praktik‐praktik yang mungkin dianggap sepele seperti :
- Penamaan file yang tidak standar
- Penyimpanan data yang tidak tepat
- Keterlambatan depo data ke repositori institusi
Selain itu, audit memberi umpan balik dan rekomendasi agar laboratorium memperbaiki kelemahan dalam prosedur dokumentasi, kontrol kualitas, dan penyimpanan data. Dengan adanya audit secara berkala, integritas data dapat dipertahankan dan risiko kesalahan atau manipulasi data dapat diminimalkan.
3. Audit dan Kepatuhan terhadap Regulasi dan Akreditasi
Selain manfaat internal, audit laboratorium juga penting dalam memenuhi persyaratan regulasi dan akreditasi. Laboratorium dalam bidang farmasi, bioteknologi, dan kesehatan harus mematuhi regulasi seperti :
- Good Laboratory Practice (GLP)
- Good Manufacturing Practice (GMP)
- Standar ISO/IEC
Artikel tentang digitalisasi laboratorium menyebut bahwa kegagalan dalam dokumentasi, kontrol akses pengguna, atau audit trail dapat menyebabkan teguran dari badan pengawas seperti FDA.
Oleh sebab itu audit menjadi sarana penting untuk menunjukkan bahwa laboratorium tidak hanya memproduksi data, tetapi melakukannya dengan cara yang dapat dipertanggungjawabkan dan diverifikasi. Regulasi dan akreditasi memberi tekanan eksternal yang memotivasi laboratorium menjaga integritas, sehingga hasil data menjadi dapat dipercaya oleh stakeholder internal maupun eksternal.
4. Pentingnya Sistem dan Budaya Integritas di Laboratorium
Namun demikian, audit saja tidak cukup tanpa dukungan sistem yang memadai dan budaya integritas di laboratorium. Digitalisasi dan otomatisasi sistem dengan penggunaan LIMS/ELN serta penerapan prinsip‐prinsip seperti ALCOA (Attributable, Legible, Contemporaneous, Original, Accurate) sangat penting untuk memperkuat audit.
Laboratorium juga perlu :
- Menetapkan pengendalian intern dan prosedur koreksi ketika audit mengungkap temuan
- Memastikan pelatihan berkelanjutan bagi teknisi dan peneliti
- Melakukan evaluasi berkala serta audit berulang akan memperkuat budaya kualitas dan integritas data
Dengan demikian, audit laboratorium berfungsi sebagai pilar dalam menjaga kepercayaan publik, validitas ilmiah, dan kualitas hasil data.
5. Konsep Integritas Data Laboratorium
Integritas data laboratorium mengacu pada keutuhan, keandalan, dan ketepatan data yang dihasilkan selama proses pengujian, analisis, dan pelaporan di laboratorium. Data yang memiliki integritas tinggi adalah data yang :
- Lengkap
- Konsisten
- Akurat
- Dapat ditelusuri
- Tidak dimanipulasi
Prinsip ALCOA :
- Attributable: Data harus dapat diatribusikan kepada individu yang melakukan pengujian.
- Legible: Data harus dapat dibaca dengan jelas.
- Contemporaneous: Data harus dicatat pada saat kejadian.
- Original: Data harus merupakan catatan asli atau salinan yang tervalidasi.
- Accurate: Data harus bebas dari kesalahan.
Prinsip ALCOA+:
- Complete: Data harus lengkap dan tidak ada yang dihapus tanpa alasan.
- Consistent: Data harus sesuai urutan waktu dan prosedur.
- Enduring: Data harus disimpan dalam bentuk yang tahan lama.
- Available: Data harus mudah diakses untuk audit dan inspeksi.
6. Faktor yang Mempengaruhi Integritas Data
Beberapa faktor yang dapat memengaruhi integritas data laboratorium meliputi :
- Kelemahan dalam prosedur dokumentasi.
- Kurangnya kontrol terhadap akses data atau penggunaan sistem manual tanpa backup digital.
- Tidak adanya sistem audit trail.
- Kurangnya pelatihan SDM dalam manajemen data dan kepatuhan regulasi.
- Ketidaksesuaian alat/instrumen atau tidak adanya validasi metode.
7. Cara Menjaga Integritas Data di Laboratorium
Beberapa langkah yang dapat dilakukan :
- Gunakan sistem LIMS (Laboratory Information Management System) atau ELN (Electronic Lab Notebook) dengan fitur audit trail.
- Terapkan dan patuhi SOP yang jelas dalam pencatatan dan pelaporan data.
- Lakukan audit internal secara berkala.
- Simpan data dalam format yang aman dan dapat diverifikasi.
- Lakukan pelatihan rutin bagi staf laboratorium tentang pentingnya integritas data.
8. Konsekuensi Jika Integritas Data Tidak Terjaga
- Data dianggap tidak valid dan dapat ditolak oleh otoritas pengawas.
- Risiko penarikan produk jika digunakan dalam industri farmasi atau makanan.
- Kerugian reputasi bagi laboratorium atau institusi.
- Potensi sanksi hukum dan administratif.
9. Standar Mutu Laboratorium di Indonesia
Standar mutu laboratorium di Indonesia adalah seperangkat pedoman, peraturan, dan sistem manajemen mutu yang diterapkan untuk menjamin bahwa kegiatan laboratorium baik laboratorium klinik, lingkungan, kesehatan masyarakat, pangan, atau lainnya menghasilkan data yang akurat, terpercaya, dan dapat dipertanggungjawabkan. Standar ini juga memastikan bahwa laboratorium memenuhi persyaratan teknis dan manajerial untuk menjaga kualitas layanannya. Berikut penjelasan terkait standar mutu laboratorium yang berlaku di Indonesia :
a. Standar Nasional Indonesia (SNI) ISO/IEC 17025:2017
ISO/IEC 17025 adalah standar internasional (yang diadopsi menjadi SNI) yang paling umum digunakan oleh laboratorium pengujian dan kalibrasi di Indonesia. Standar ini mencakup dua aspek utama :
- Persyaratan manajemen : terkait sistem mutu, audit internal, tindakan perbaikan, dan peningkatan berkelanjutan.
- Persyaratan teknis : meliputi kompetensi personel, metode pengujian, peralatan, ketertelusuran pengukuran (traceability), pengambilan sampel, dan penanganan hasil.
b. Standar ISO 15189 untuk Laboratorium Klinik
ISO 15189 digunakan khusus untuk laboratorium klinik dan medis. Standar ini menggabungkan prinsip ISO 17025 dan ISO 9001, dengan fokus khusus pada kebutuhan laboratorium pelayanan kesehatan. Beberapa aspek penting :
- Kualitas dan kompetensi layanan laboratorium medis.
- Validasi metode uji klinis.
- Jaminan mutu internal dan eksternal.
- Pelaporan hasil yang tepat dan etis.
Laboratorium klinik yang ingin mendapatkan pengakuan internasional atau bersaing di tingkat global sering mengadopsi ISO 15189.
c. Pedoman Kementerian Kesehatan RI
Untuk laboratorium di bidang kesehatan masyarakat, klinik, dan rumah sakit, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menetapkan standar teknis melalui berbagai regulasi, antara lain:
- Permenkes No. 411/Menkes/Per/III/2010 tentang Laboratorium Klinik.
- Permenkes No. 15 Tahun 2013 tentang Persyaratan Laboratorium Kesehatan.
- SNARS (Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit), yang juga mencakup mutu laboratorium rumah sakit
- Permenkes No. 7 Tahun 2019 tentang uji udara biologi laboratorium klinik atau rumah sakit
- Permenkes No. 2 Tahun 2023 tentang uji air hygiene sanitasi, air minum, dan air kolam renang.
Dalam pedoman tersebut, mutu pelayanan laboratorium mencakup aspek :
- SDM yang kompeten.
- Sarana dan prasarana yang sesuai standar.
- Validasi metode uji.
- Pengendalian mutu internal dan eksternal.
- Manajemen risiko dan keselamatan kerja.
10. Akreditasi, Sistem Manajemen Mutu, dan Konsekuensi Ketidakterlaksanaan Audit
Akreditasi oleh KAN dan Lembaga Terkait
Komite Akreditasi Nasional (KAN) merupakan lembaga independen yang memberikan akreditasi laboratorium di Indonesia sesuai standar ISO/IEC 17025 dan ISO 15189. KAN bekerja sama dengan BSN (Badan Standardisasi Nasional) dan diakui oleh lembaga internasional seperti ILAC dan APLAC. Akreditasi ini menunjukkan bahwa laboratorium telah memenuhi standar mutu internasional dan menghasilkan data yang sahih secara global.
Implementasi Sistem Manajemen Mutu (SMM)
Untuk memenuhi persyaratan akreditasi dan menjaga mutu secara berkelanjutan, laboratorium harus mengembangkan serta menerapkan Sistem Manajemen Mutu (SMM) yang mencakup:
- Dokumentasi lengkap (manual mutu, SOP, instruksi kerja).
- Audit internal dan eksternal berkala.
- Analisis penyebab ketidaksesuaian dan tindakan perbaikan.
- Pengendalian dokumen dan rekaman.
- Pelatihan dan peningkatan kompetensi SDM.
Penerapan SMM tidak hanya dimaksudkan untuk mendapatkan akreditasi, tetapi juga untuk membangun budaya mutu yang berkelanjutan di lingkungan laboratorium.
Konsekuensi Jika Laboratorium Tidak Melakukan Audit
Kegagalan dalam melakukan audit secara berkala dapat menimbulkan berbagai konsekuensi serius, antara lain:
- Hasil pengujian tidak valid, karena kesalahan prosedur, penggunaan alat, atau pengambilan sampel tidak terdeteksi.
- Kehilangan akreditasi, karena audit internal merupakan syarat wajib ISO/IEC 17025:2017.
- Tuntutan hukum dan sanksi regulasi, terutama jika data yang salah berdampak pada lingkungan atau masyarakat.
- Kerusakan reputasi, yang dapat mengakibatkan hilangnya kepercayaan publik dan mitra kerja.
- Tidak terdeteksinya ketidaksesuaian atau fraud, karena audit berfungsi mendeteksi manipulasi data dan praktik tidak etis.
Audit bukan sekadar formalitas, melainkan alat penting untuk menjaga keakuratan, integritas, dan kredibilitas data laboratorium. Tanpa audit yang konsisten, laboratorium berisiko kehilangan akreditasi, reputasi, dan kepercayaan dari publik serta lembaga pengawas.
Daftar Referensi
International Organization for Standardization. (2017). ISO/IEC 17025:2017 – General requirements for the competence of testing and calibration laboratories.
International Organization for Standardization. (2022). ISO 15189:2022 – Medical laboratories — Requirements for quality and competence.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2010). Peraturan Menteri Kesehatan No. 411/Menkes/Per/III/2010 tentang Laboratorium Klinik.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2013). Peraturan Menteri Kesehatan No. 15 Tahun 2013 tentang Persyaratan Laboratorium Kesehatan.
Komite Akreditasi Nasional. (2023). Daftar Laboratorium Terakreditasi. https://kan.or.id
Bouter, L. M., Tijdink, J., Axelsen, N., Martinson, B. C., & ter Riet, G. (2016). Ranking major and minor research misbehaviors: Results from a survey among participants of four World Conferences on Research Integrity. Research Integrity and Peer Review, 1(1), 17
Lim, T., Lee, J. C. Y., Low, C. H., & Ang, L. T. (2021). Encouraging responsible data management through research data audits: A Singapore experience. BMC Medical Ethics, 22(1), 128.
SelectScience. (2022). Ensuring data integrity: How audit-proof digital solutions offer an easier route to lab digitalization.
The Lab HQ. (2023). Data security & compliance: The importance of audit trails.
Indian Journal of Medical Biochemistry. (2023). Internal Quality Control practices in Clinical Biochemistry Laboratory. Indian Journal of Medical Biochemistry, 27(2), 93–97.