\

Krisis Sampah Plastik: Dari Pesisir ke Lautan & Masuk ke Rantai Makanan

Facebook
Twitter
LinkedIn
thumb axo web krisis sampah plastik

Tren Peningkatan Sampah Plastik di Indonesia

Pada tahun 2024, total timbulan sampah nasional tercatat sekitar 31,9 juta ton, dengan sampah plastik menyumbang sekitar 16 % dari total tersebut. Sumber lain menyebut bahwa persentase sampah plastik bahkan mencapai 19,74 % dari total 34,2 juta ton sampah nasional pada tahun yang sama. Data sebelumnya juga menyebutkan bahwa pada 2016 sampah plastik menyumbang 16 % dari total timbulan sampah sebanyak 66 juta ton/tahun, dan meningkat dari sekitar 11 % pada tahun 2005 menjadi 15 % pada 2015 terutama di kota-kota besar. Tren menunjukkan kenaikan perlahan dari kontribusi plastik terhadap total sampah: dari ~11 % pada tahun 2005 menjadi 15 % pada 2015 di wilayah perkotaan. ada 2024, timbulan sampah plastik kembali meningkat baik dalam proporsi maupun volume, ditandai dengan peningkatan 0,5 poin persentase dibanding tahun sebelumnya, dengan laju kenaikan sekitar 0,1 juta ton per tahun. Jika tren ini tidak dibendung, komposisi plastik bisa meningkat hingga sekitar 38,42 % di tahun 2050 menurut estimasi pemerintah berdasarkan data 2023 dan asumsi “business as usual”. 

Menurut laporan World Bank, Indonesia menghasilkan sekitar 7,8 juta ton sampah plastik per tahun, dan sekitar 4,9 juta ton dari jumlah tersebut diklasifikasikan sebagai mismanaged plastic waste—yakni sampah plastik yang tidak dikumpulkan, dibuang sembarangan, dibuang ke TPA terbuka, atau bocor dari tempat pembuangan akhir yang tidak dikelola dengan baik. Data lainnya menyebut bahwa tiap tahun terdapat 5 juta ton sampah plastik yang tidak terkelola di Pulau Jawa saja, sebagian dibuang ke sungai dan lingkungan sekitar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan jumlah penduduk memiliki pengaruh signifikan terhadap jumlah timbulan sampah plastik antar provinsi di Indonesia. Artinya, wilayah dengan populasi lebih besar dan kesejahteraan lebih tinggi cenderung menghasilkan sampah plastik lebih banyak. Selain itu, pertumbuhan konsumsi plastik sekali pakai juga disebut-sebut sebagai salah satu pemicu kenaikan timbulan plastik baru-baru ini. Walaupun sudah banyak perhatian terhadap isu ini, tingkat daur ulang sampah plastik di Indonesia masih rendah, sekitar 10–15 %, sehingga mayoritas plastik tetap tidak dikelola dengan baik. Jika tidak ada perubahan signifikan kebijakan dan perilaku, data pemerintah memperkirakan bahwa persentase sampah plastik bisa hampir dua kali lipat dari posisi tahun 2023 menuju tahun 2050. Tantangan besar termasuk infrastruktur pengumpulan dan daur ulang, kesadaran publik, serta regulasi yang kuat dan implementatif. 

Dampak dan Upaya Pengelolaan Sampah Plastik di Indonesia

1. Dampak Plastik terhadap Laut dan Rantai Makanan

Sampah plastik memiliki efek jangka panjang karena bahan plastik sulit terurai dan bisa bertahan di lingkungan laut dalam waktu lama. Plastik di laut dapat menyebabkan bioakumulasi zat polutan dan racun dalam rantai makanan laut, mengancam biota laut, dan mengganggu ekosistem secara keseluruhan. Mikroplastik juga menjadi masalah karena ukurannya yang kecil sulit dilacak dan diambil kembali, serta mudah untuk tersebar sehingga efeknya meluas. Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk mengurangi sampah plastik, terutama plastik sekali pakai dan kantong plastik. Contohnya adalah Peraturan Wali Kota (Perwali / Perda) di kota-kota seperti Semarang yang mengatur pengendalian penggunaan kantong plastik. Selain itu, di tingkat nasional ada usulan kebijakan seperti cukai plastik yang masih dalam perdebatan antar kementerian dan belum diterapkan secara jelas karena belum ada regulasi pelaksana. Kebijakan plastik berbayar dan kebijakan lokal pembatasan plastik sekali pakai juga sudah mulai diberlakukan di beberapa daerah seperti di Kelurahan Palupi, Kota Palu. 

2. Kebijakan dan Peran Masyarakat dalam Pengurangan Sampah Plastik

Kesadaran masyarakat menjadi aspek penting dalam pengelolaan sampah plastik. Penelitian menunjukkan bahwa program daur ulang serta perilaku masyarakat dalam memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan penggunaan alternatif dapat memperkecil dampak. Di beberapa lokasi seperti Desa Sirofi, Nias Selatan, masyarakat memanfaatkan sampah plastik menjadi produk daur ulang seperti tas atau asbak rokok sebagai upaya pengurangan limbah plastik. Namun, masih banyak kendala seperti kurangnya infrastruktur pengelolaan sampah, kurangnya sosialisasi yang efektif, dan motivasi/perubahan perilaku yang belum merata. 

Krisis Sampah Plastik di Indonesia: Skala, Dampak, dan Solusi

Krisis sampah plastik adalah kondisi darurat lingkungan yang disebabkan oleh akumulasi sampah plastik yang tidak terkelola dengan baik, berdampak besar pada ekosistem, kesehatan manusia, dan ekonomi. Di Indonesia, krisis ini tergolong serius dan kompleks, karena timbulan sampah plastik meningkat setiap tahun dan pengelolaan masih belum optimal. Berikut penjabaran lebih lengkapnya dalam beberapa poin :

1. Skala Krisis Nasional

Indonesia merupakan penyumbang sampah plastik ke laut terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok (Jambeck et al., 2015). Menurut data Kementerian LHK, Indonesia memproduksi sekitar 7,8 juta ton sampah plastik per tahun, dan sebagian besar (sekitar 4,9 juta ton) tidak terkelola dengan baik. Kondisi ini menyebabkan kebocoran plastik ke laut, pencemaran sungai, serta pencemaran daratan di kota dan pedesaan.

2. Dampah Terhadap Lingkungan

Sampah plastik di laut merusak ekosistem pesisir, terumbu karang, dan mengancam biota laut seperti penyu, burung laut, dan ikan. Banyak dari hewan ini menelan plastik karena mengira itu makanan, menyebabkan kematian massal dan gangguan rantai makanan. Mikroplastik yang berasal dari degradasi plastik juga terakumulasi dalam tubuh organisme laut dan akhirnya masuk ke tubuh manusia melalui konsumsi seafood.

3. Dampak terhadap Kesehatan Manusia

Mikroplastik tidak hanya ditemukan di laut, tapi juga dalam air minum, udara, dan makanan. Studi menunjukkan bahwa manusia bisa menelan ribuan partikel mikroplastik setiap minggunya, yang berpotensi menyebabkan gangguan hormon, peradangan, atau kerusakan organ dalam jangka panjang. Selain itu, pembakaran sampah plastik di permukiman tanpa alat kontrol emisi juga menghasilkan dioksin beracun yang bisa menyebabkan kanker dan gangguan pernapasan.

4. Akar Permasalahan Krisis

Krisis ini diperparah oleh tingginya konsumsi plastik sekali pakai, sistem pengelolaan sampah yang belum merata, dan minimnya kesadaran masyarakat. Di banyak daerah, masih banyak orang yang membakar atau membuang sampah plastik ke sungai. Infrastruktur daur ulang juga belum tersedia luas, sehingga hanya sekitar 10–15% sampah plastik yang berhasil didaur ulang.

5. Solusi dan Tindakan Mendesak

Mengatasi krisis ini memerlukan pendekatan terintegrasi dari pemerintah, swasta, masyarakat, dan komunitas internasional. Beberapa solusi antara lain: pelarangan plastik sekali pakai, edukasi publik, penguatan sistem daur ulang, penerapan ekonomi sirkular, serta pengembangan inovasi seperti bioplastik dan sistem pengumpulan berbasis digital. Indonesia sendiri telah menargetkan pengurangan sampah plastik laut hingga 70% pada tahun 2025, namun capaian ini sangat tergantung pada komitmen nyata dan tindakan bersama dari semua pihak.

Polusi Plastik Laut di Indonesia

Polusi plastik laut merupakan salah satu bentuk pencemaran paling serius yang mengancam ekosistem laut, keanekaragaman hayati, dan kesehatan manusia. Di Indonesia, yang merupakan negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, masalah ini sangat krusial. Mayoritas sampah plastik di laut berasal dari daratan, terutama akibat pembuangan sampah tidak terkelola, sungai yang tercemar, dan sistem drainase yang buruk. Menurut laporan World Bank (2021), sekitar 620.000 ton sampah plastik masuk ke laut Indonesia setiap tahun. Sampah tersebut umumnya berasal dari plastik sekali pakai seperti kantong belanja, sedotan, botol minuman, dan kemasan makanan. Aktivitas pariwisata, perikanan, dan pelayaran juga menyumbang limbah plastik dalam jumlah besar. 

Dampak Sampah Plastik terhadap Ekosistem Pesisir dan Ekonomi

Sebagian besar sampah plastik yang ditemukan di pesisir berasal dari aktivitas manusia di darat, termasuk rumah tangga, industri, pasar, dan restoran. Sampah-sampah ini terbawa ke laut melalui sistem drainase, sungai, atau langsung dibuang ke pantai. Selain itu, kegiatan pariwisata dan pelayaran juga menyumbang banyak limbah plastik, seperti botol minuman, kantong plastik, alat pancing, dan styrofoam makanan. Daerah wisata populer seperti Bali, Kepulauan Seribu, dan Lombok sering mengalami lonjakan timbulan sampah saat musim liburan. Sampah plastik yang menumpuk di pantai menyebabkan kerusakan ekosistem pesisir seperti mangrove, lamun, dan terumbu karang. Plastik yang menyelimuti akar mangrove bisa menghambat pertumbuhannya, dan styrofoam dapat mengganggu pembentukan pasir pantai. Selain itu, satwa pesisir seperti kepiting, burung laut, dan penyu sering kali terperangkap atau menelan plastik, yang berakibat fatal. Plastik juga mencemari tempat bertelur penyu dan burung, serta merusak keindahan lanskap alami. Kondisi pantai yang kotor karena sampah plastik berdampak langsung pada penurunan jumlah wisatawan, terutama di daerah yang menggantungkan ekonomi pada sektor pariwisata bahari. Nelayan juga terdampak karena tangkapan ikan berkurang akibat pencemaran, dan jaring mereka sering rusak karena tersangkut sampah. Banyak komunitas pesisir kehilangan potensi ekonomi dari ekowisata, perikanan, dan budidaya laut akibat degradasi kualitas lingkungan akibat sampah plastik.

Ancaman Polusi Plastik terhadap Biota Laut dan Kesehatan Manusia

Sampah plastik menyebabkan kerusakan serius pada biota laut, mulai dari ikan kecil hingga mamalia besar seperti paus dan lumba-lumba. Banyak hewan laut menelan plastik karena disangka makanan, yang dapat menyebabkan penyumbatan sistem pencernaan, luka internal, hingga kematian. Selain itu, plastik dapat membungkus atau melilit tubuh hewan laut seperti penyu atau anjing laut, yang mengganggu pergerakan dan proses alami mereka. Dalam jangka panjang, rantai makanan laut juga terganggu karena plastik membawa bahan kimia beracun dan mikroplastik yang terserap oleh plankton. Plastik yang berada di laut dalam waktu lama akan terdegradasi menjadi mikroplastik (partikel <5 mm). Mikroplastik ini dapat diserap oleh plankton, masuk ke dalam tubuh ikan, dan akhirnya dikonsumsi oleh manusia melalui makanan laut. Penelitian menemukan adanya mikroplastik dalam air laut, garam dapur, bahkan dalam feses manusia. Hal ini menunjukkan bahwa polusi plastik laut tidak hanya menjadi masalah lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan manusia secara global. Ketika hewan laut seperti ikan, kerang, atau udang mengonsumsi mikroplastik, partikel tersebut ikut terbawa saat hewan-hewan itu ditangkap dan dimakan manusia. Artinya, manusia kini secara tidak langsung mengkonsumsi plastik dalam bentuk  mikroplastik, bahan nanoplastik, melalui seafood. Penelitian telah menemukan kandungan mikroplastik dalam tubuh manusia, termasuk di darah, paru-paru, bahkan plasenta. Risiko kesehatan dari paparan jangka panjang ini mencakup gangguan hormon, peradangan jaringan, hingga potensi kanker. 

Dampak Polusi Plastik Laut terhadap Ekonomi dan Ekosistem Pesisir

Polusi plastik laut merusak pariwisata pantai dan ekosistem pesisir. Pantai yang penuh sampah plastik menurunkan jumlah wisatawan dan merugikan ekonomi lokal. Selain itu, nelayan juga terdampak karena jaring dan hasil tangkapan mereka tercemar plastik. Menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan, kerugian ekonomi akibat pencemaran laut dari plastik di Indonesia dapat mencapai triliunan rupiah per tahun. Pemerintah Indonesia telah membuat Rencana Aksi Nasional Penanganan Sampah Laut (RAN PSL) 2018–2025, dengan target mengurangi 70% sampah plastik laut pada tahun 2025. Strateginya mencakup peningkatan pengelolaan sampah darat, pembersihan laut, pelibatan masyarakat pesisir, serta penguatan regulasi. Program seperti Gerakan Bersih Pantai, inovasi pengumpulan sampah di sungai (misalnya dengan “trash boom”), dan untuk mengatasi sampah plastik di pesisir memerlukan pendekatan hulu-hilir: dari mengurangi produksi dan konsumsi plastik sekali pakai, hingga meningkatkan sistem pengelolaan sampah di darat agar tidak sampai ke pesisir. Edukasi kepada masyarakat pesisir tentang pentingnya menjaga lingkungan laut sangat penting, begitu juga dengan pelibatan sektor swasta dalam skema extended producer responsibility (EPR). Pemantauan dan pelaporan berbasis teknologi, seperti aplikasi pelacak sampah dan drone monitoring, mulai dikembangkan untuk mendukung kebijakan berbasis data. Namun, tantangan besar masih ada pada implementasi di tingkat lokal dan perubahan perilaku masyarakat.   

Peran Laboratorium Lingkungan dalam Pemantauan Pencemaran Laut

Selain itu, pentingnya pengujian lingkungan oleh laboratorium lingkungan untuk mendata dan menganalisis kualitas lingkungan, termasuk dalam konteks sampah dan pencemaran air laut. Dalam kasus pengujian sampah dan kualitas air laut, laboratorium lingkungan melakukan serangkaian analisis fisik, kimia, dan biologis terhadap sampel air laut dan sedimen untuk mengetahui sejauh mana pencemaran terjadi, terutama oleh plastik dan mikroplastik. Tujuan utama dari pengujian ini adalah : 

  • Mengidentifikasi jenis dan kadar polutan (termasuk plastik, logam berat, minyak, dan bahan kimia berbahaya).
  • Menentukan kondisi kualitas air laut berdasarkan parameter lingkungan.
  • Menilai risiko ekologis terhadap biota laut dan ekosistem pesisir.
  • Memberikan data ilmiah untuk kebijakan dan pengelolaan lingkungan laut.

Laboratorium akan mengambil berbagai jenis sampel dari lokasi tertentu :

  • Sampel air laut: diambil di beberapa titik kedalaman dan lokasi pesisir hingga tengah laut.
  • Sampel sedimen laut: untuk mendeteksi polutan berat dan akumulasi plastik di dasar laut.
  • Sampah permukaan laut/pesisir: dikategorikan berdasarkan jenis (plastik keras, lunak, logam, dll).
  • Biota laut: kadang juga diambil untuk uji kandungan mikroplastik dalam tubuh organisme laut.

Beberapa parameter yang umum diuji oleh laboratorium lingkungan untuk air laut yang tercemar sampah plastik adalah :

KategoriParameter Uji
FisikWarna, kekeruhan, suhu, padatan tersuspensi
KimiapH, salinitas, kandungan logam berat (Hg, Pb, Cd), senyawa kimia organik (PCB, PAH)
BiologisKandungan mikroplastik dalam air dan sedimen, bioindikator pencemaran (fitoplankton, zooplankton)
Sampah PadatKomposisi, kuantitas, dan jenis sampah plastik

Hasil pengujian akan disusun dalam laporan laboratorium lingkungan berdasarkan PPRI No. 22 Tahun 2021 Lampiran VIII yang memuat:

  • Nilai parameter vs standar baku mutu.
  • Tingkat pencemaran.
  • Jenis dan sebaran sampah plastik di lokasi uji.
  • Rekomendasi tindakan perbaikan atau mitigasi.

Laporan ini menjadi dasar untuk penyusunan kebijakan lingkungan, pelaporan ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), serta intervensi lokal seperti clean-up atau pemasangan alat pencegah sampah di sungai.

Referensi

Antara News. (2024, Mei 20). Kemenko Marves: Kebocoran sampah plastik ke laut turun 41,68 persen. https://www.antaranews.com/berita/4376042/kemenko-marves-kebocoran-sampah-plastik-ke-laut-turun-4168-persen

Bengkulu Antara News. (2024, Maret 2). 5 juta ton sampah plastik di Indonesia tidak terkelola tiap tahun. https://bengkulu.antaranews.com/berita/184101/5-juta-ton-sampah-plastik-di-indonesia-tidak-terkelola-tiap-tahun

Indoposco. (2025, Juli 10). Konsumsi naik, timbulan sampah plastik capai 19,74 persen dari 34,2 juta ton. https://indoposco.id/nasional/2025/07/10/konsumsi-naik-timbulan-sampah-plastik-capai-1974-persen-dari-342-juta-ton

Jambeck, J. R., Geyer, R., Wilcox, C., Siegler, T. R., Perryman, M., Andrady, A., … & Law, K. L. (2015). Plastic waste inputs from land into the ocean. Science, 347(6223), 768-771. https://doi.org/10.1126/science.1260352

Jurnalius. (2022). Dampak Sampah Plastik Terhadap Ekosistem Laut. Jurnal IUS, 10(2), 150–159. https://jurnalius.ac.id/ojs/index.php/jurnalIUS/article/view/773

Kompas. (2024, Juni 26). RI optimistis mampu kurangi 70 persen sampah plastik di laut. https://lipsus.kompas.com/pameranotomotifnasional2024/read/2024/06/26/080000786/ri-optimistis-mampu-kurangi-70-persen-sampah-plastik-di-laut

PPKL KLHK. (2023). Pengantar Reduksi Sampah Plastik. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. https://ppkl.menlhk.go.id/website/reduksiplastik/pengantar.php

World Bank. (2021). Plastic Waste Discharges from Rivers and Coastlines in Indonesia. https://www.worldbank.org/en/country/indonesia/publication/plastic-waste-discharges-from-rivers-and-coastlines-in-indonesia

Jurnal Syntax Imperatif. (2022). Evaluasi Kebijakan Pelarangan Plastik Sekali Pakai di Kota Palu. Syntax Imperatif: Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 3(1), 45–55. https://www.jurnal.syntaximperatif.co.id/index.php/syntax-imperatif/article/view/625

Jurnal STIA Pembangunan Palu. (2023). Model Governance Penanganan Sampah Plastik Berbasis Kolaboratif. Jurnal Administrator, 2(2), 34–48. https://jurnal.stiapembangunanpalu.ac.id/index.php/administrator/article/view/4

JIIP. (2022). Peran Pemerintah Kota Semarang dalam Pengendalian Sampah Plastik. Jurnal Ilmiah Ilmu Pemerintahan, 5(3), 20–30. https://www.jiip.stkipyapisdompu.ac.id/jiip/index.php/JIIP/article/view/3057

E-Journal DPR RI. (2020). Urgensi Penerapan Cukai Plastik di Indonesia. Jurnal Budget, 2(1), 15–25. https://ejurnal.dpr.go.id/index.php/jurnalbudget/article/view/39

Scroll to Top
Kirim Pesan
Kirim pesan pada kami
Scan the code
Terima Kasih telah menghubungi kami.