\

Pembatasan Kembang Api di Indonesia : Refleksi Awal Tahun terhadap Isu Lingkungan dan Kualitas Udara

Facebook
Twitter
LinkedIn
thumbnail

Latar Belakang Pembatasan Kembang Api di Indonesia

Penggunaan kembang api secara tradisional sering dikaitkan dengan perayaan akhir tahun dan momen kebahagiaan bersama masyarakat. Namun, belakangan ini pemerintah Indonesia mulai menata kembali praktik ini melalui kebijakan pembatasan dan larangan tertentu, terutama pada perayaan New Year 2025–2026. Kepolisian Republik Indonesia (Polri) bahkan tidak mengeluarkan izin untuk pesta kembang api nasional pada malam pergantian tahun, sekaligus dibarengi dengan imbauan solidaritas terhadap korban bencana alam di Sumatera. Kebijakan ini mencerminkan bagaimana aspek non-teknis seperti empati sosial turut memperkuat dasar pembatasan kembang api di ranah publik.

Dampak Kembang Api terhadap Lingkungan dan Kualitas Udara

Dalam konteks lingkungan, pertimbangan ilmiah menjadi penting karena kembang api menghasilkan emisi gas dan partikel yang potensial mencemari udara. Ketika dinyalakan, kembang api melepaskan partikel halus seperti PM2.5 dan PM10 serta berbagai gas berbahaya, termasuk sulfur dioksida (SO₂), nitrogen oksida (NOₓ), karbon monoksida (CO), dan logam berat dari bahan pewarna. Partikel halus ini dikenal mampu menembus jauh ke dalam paru-paru manusia dan memperburuk kondisi kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan penderita penyakit pernapasan.

Selain gangguan kesehatan, dampak terhadap kualitas udara juga bersifat spasial dan temporal. Penelitian kualitas udara di perlombaan kembang api menunjukkan bahwa konsentrasi PM2.5 dapat meningkat signifikan dalam beberapa jam setelah pertunjukan, bahkan memengaruhi wilayah metropolitan yang luas. Walaupun beberapa studi di luar negeri menemukan variasi dampaknya tergantung kondisi geografis dan cuaca, fenomena peningkatan partikel halus pasca-ledakan merupakan fakta yang perlu diperhatikan untuk menentukan kebijakan lokal.

Tinjauan lingkungan juga menempatkan kembang api dalam konteks polusi yang lebih luas. Partikel dan gas emisi dari kembang api tidak hanya berkontribusi pada pencemaran udara jangka pendek tetapi juga dapat masuk ke tanah dan perairan melalui residu bahan kimia yang jatuh kembali ke permukaan. Senyawa seperti perchlorate dan logam berat dari kembang api berpotensi merusak ekosistem dan mempengaruhi organisme air, yang artinya efek kembang api tidak selesai hanya di titik lepasnya asap ke udara. 

Respon kebijakan di Indonesia bersifat multi-lembaga dan berlapis. Selain kebijakan nasional dari kepolisian, beberapa pemerintah daerah seperti Provinsi Banten dan Riau telah menetapkan surat edaran larangan langsung kepada masyarakat untuk tidak menggunakan kembang api dan petasan selama periode perayaan. Sementara itu, di Jakarta, kebijakan larangan juga ditegaskan melalui peraturan lokal yang mencegah pesta besar kembang api di berbagai tempat terbuka. Pendekatan ini menunjukkan ada upaya penegakan norma keselamatan dan ketertiban yang tidak hanya berdasarkan isu kesehatan, tetapi juga keamanan publik dan pemantauan lingkungan. 

Refleksi awal tahun terhadap isu pembatasan kembang api di Indonesia membuka ruang diskusi yang lebih besar mengenai hubungan antara tradisi perayaan, kesehatan masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan. Walaupun penggunaan kembang api belum dilarang secara permanen melalui undang-undang nasional yang sangat tegas, langkah-langkah pembatasan yang diambil menunjukkan perubahan budaya regulasi yang semakin mempertimbangkan kualitas udara dan kesehatan publik. Kebijakan ini dapat menjadi pijakan awal bagi strategi lingkungan yang lebih holistik untuk tahun-tahun mendatang, terutama di kawasan perkotaan besar yang rentan terhadap polusi udara. 

Kualitas udara saat perayaan Tahun Baru dapat mempengaruhi kesehatan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, terutama di wilayah perkotaan dan padat penduduk. Paparan polusi udara tersebut dapat menimbulkan gangguan kesehatan jangka pendek. Gejala yang sering muncul meliputi iritasi mata dan tenggorokan, batuk, sesak nafas, sakit kepala, serta penurunan fungsi paru-paru sementara. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan penyakit jantung memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami keluhan. Dalam beberapa kasus, peningkatan kunjungan ke rumah sakit akibat gangguan pernapasan tercatat setelah malam Tahun Baru. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pada periode perayaan, konsentrasi PM2,5 dapat meningkat secara signifikan dibanding periode sebelum perayaan, mempercepat pembentukan aerosol sekunder dan meningkatkan komponen kimia berbahaya di atmosfer. Lonjakan polutan ini berlangsung meskipun hanya dalam waktu singkat namun intens, dan sering kali dipengaruhi oleh kondisi cuaca yang stabil sehingga polutan terperangkap dekat permukaan udara. Polutan kimia seperti nitrogen oksida dan sulfur juga dapat meningkat, memperburuk kondisi kualitas udara sementara di wilayah perkotaan.

Dampak penurunan kualitas udara terhadap lingkungan mencakup risiko bagi ekosistem udara dan tanah, terutama ketika partikel halus dan senyawa logam berat dari kembang api mengendap di permukaan tanah dan badan air. Partikel aerosol yang tinggi dapat menurunkan visibilitas dan meningkatkan konsentrasi polutan di atmosfer, yang kemudian mempengaruhi proses fotosintesis tanaman dan kualitas habitat fauna. Polutan seperti PM2,5 juga memasuki siklus hidrologi setelah mengendap, berpotensi mencemari sumber air tawar serta tanah di area perkotaan dan pinggiran kota. Dampak ini menimbulkan penurunan kualitas ekosistem lokal dan memicu efek berantai dalam rantai makanan. 

Untuk menanggulangi dampak kualitas udara perayaan terhadap lingkungan, langkah pertama adalah mengurangi penggunaan kembang api tradisional yang menghasilkan polusi tinggi. Beberapa kota telah mendorong alternatif perayaan seperti pertunjukan drone atau laser light show yang jauh lebih bersih dari segi emisi udara, membantu menurunkan lonjakan polutan sekaligus menjaga tradisi perayaan. Penguatan pemantauan kualitas udara real-time di berbagai titik kota juga penting agar otoritas setempat dapat mengeluarkan peringatan atau kebijakan sementara saat level polutan berbahaya terdeteksi. Selain itu, edukasi publik tentang dampak polusi festival dan penerapan regulasi emisi yang lebih ketat untuk produk piroteknik dapat membantu meminimalkan efek negatifnya. 

Perbaikan kualitas udara juga dapat diperkuat dengan kebijakan jangka panjang seperti pengaturan zonasi penggunaan api unggun dan kendaraan bermotor selama perayaan, serta investasi pada teknologi pengendalian emisi dan energi bersih. Pengurangan sumber polusi lain yang berkontribusi pada dasar polusi harian (misalnya transportasi dan industri) akan membuat lonjakan polutan saat perayaan lebih mudah ditangani. Melibatkan masyarakat dalam kampanye tentang praktik ramah lingkungan selama perayaan juga dapat mengurangi tekanan terhadap udara dan lingkungan. Upaya ini jika dijalankan bersama antara pemerintah, ilmuwan, dan masyarakat akan membantu menjaga udara tetap sehat baik saat perayaan maupun sepanjang tahun. 

Untuk menghadapi dampak kualitas udara itu, sejumlah pendekatan mitigasi bisa diadopsi, seperti mengurangi penggunaan kembang api tradisional, memanfaatkan alternatif pertunjukan cahaya rendah emisi, serta memperkuat pemantauan kualitas udara real-time agar respons pemerintah dan masyarakat lebih cepat saat level polutan berbahaya terdeteksi. Edukasi publik tentang risiko polusi dari kembang api dan regulasi emisi yang lebih ketat juga penting agar perayaan tetap aman bagi kesehatan serta ramah lingkungan. Selain itu, kebijakan jangka panjang seperti pengaturan zonasi aktivitas pembakaran dan investasi pada teknologi bersih dapat membantu menurunkan dasar polusi udara sehingga lonjakan akibat perayaan dapat dikelola lebih efektif di masa depan. 

Secara keseluruhan, pembatasan kembang api di Indonesia mencerminkan pergeseran budaya regulasi yang semakin mempertimbangkan kualitas udara dan kesehatan publik sebagai bagian dari perencanaan lingkungan berkelanjutan. Meskipun belum ada larangan nasional permanen, langkah-langkah pembatasan ini bisa menjadi pijakan penting bagi strategi lingkungan yang lebih komprehensif, terutama di kawasan perkotaan besar yang sering menghadapi tantangan polusi udara tinggi saat periode perayaan.

Daftar Referensi

IQAir. (2026, January 1). Kembang api Malam Tahun Baru dan kualitas udara. IQAir Newsroom. 

Ma, Q., Zhao, G., Cheng, K., Wu, Y., Zhang, R., Gu, L., Xue, J., Feng, W., Zhou, J., Shen, X., & Liu, D. (2025). Increased PM<sub>2.5</sub> caused by enhanced fireworks burning and secondary aerosols in a forested city of North China during the 2023–2025 Spring Festivals. Toxics, 13(12), 1009. 

Bondan. 2021. Kualitas Udara Jakarta Pasca PSBB. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara

Manurung F. 2017. Analisis Konsentrasi CO dan NO Dalam Ruangan Serta Kondisi Karakteristik Rumah di Tepi Jalan Raya Djamin Kota Medan Tahun 2016. Skripsi. Medan:USU

Sari, N. K. (2015). Penentuan Korelasi Curah Hujan dan Ketinggian Lapisan Inversi Dan Hubungannya Dengan Kualitas Udara Ambien Kota Surabaya. Jurnal Teknik ITS, 4(1), 111-116

Scroll to Top
Kirim Pesan
Kirim pesan pada kami
Scan the code
Terima Kasih telah menghubungi kami.