\

Peran Laboratorium Lingkungan dalam Menanggapi Krisis Gas Bocor: Studi Kasus Rungkut Surabaya

Facebook
Twitter
LinkedIn
thumb artikel

Laboratorium tanggap darurat adalah fasilitas analitik yang dirancang untuk memberikan respons ilmiah cepat ketika terjadi insiden lingkungan, seperti pencemaran air, udara, tanah, atau kecelakaan industri. Laboratorium ini biasanya dilengkapi instrumen portabel maupun stasioner, misalnya spektrofotometer, GC-MS, sensor kualitas udara, dan peralatan mikrobiologi yang memungkinkan identifikasi cepat terhadap zat berbahaya. Dalam operasionalnya, laboratorium tanggap darurat menjalankan fungsi pengambilan sampel, analisis risiko, pemetaan sebaran kontaminan, serta memberikan rekomendasi teknis bagi otoritas terkait untuk tindakan mitigasi. Selain itu, laboratorium ini berperan dalam mendukung penegakan hukum lingkungan melalui penyediaan data yang valid dan terdokumentasi dengan baik. Dengan demikian, keberadaan laboratorium tanggap darurat menjadi komponen penting dalam sistem manajemen bencana lingkungan karena mampu mempercepat pengambilan keputusan yang berbasis bukti dan meminimalkan dampak negatif terhadap manusia serta ekosistem.

Laboratorium lingkungan tanggap darurat berfungsi sebagai pusat analisis cepat untuk mengidentifikasi penyebab dan dampak insiden lingkungan di Indonesia. Laboratorium ini biasanya dilengkapi perangkat pemantauan kualitas udara, air, dan tanah yang dirancang untuk bekerja dalam situasi krisis. Banyak artikel ilmiah menjelaskan bahwa kecepatan analisis sangat penting agar pemerintah dapat mengambil tindakan mitigasi yang tepat. Di Indonesia, laboratorium seperti ini sering terlibat ketika terjadi bencana industri, kebocoran limbah, atau pencemaran mendadak. Peran mereka membantu meminimalkan kerusakan ekosistem dan melindungi kesehatan masyarakat. 

Salah satu isu lingkungan yang sering dibahas dalam jurnal penelitian adalah kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dan Sumatra. Laboratorium tanggap darurat berperan dalam mengukur tingkat partikulat, sebaran asap, serta kandungan zat berbahaya di udara. Temuan lapangan umumnya menunjukkan bahwa kualitas udara dapat turun drastis selama musim kebakaran, sehingga membutuhkan respons analitik yang cepat. Data laboratorium ini juga menjadi dasar rekomendasi kebijakan untuk pengendalian kebakaran dan penetapan status darurat udara. Dengan demikian, keberadaan laboratorium memperkuat kemampuan pemerintah dalam memprediksi dan merespons krisis asap. 

Isu pencemaran air akibat aktivitas industri dan pertambangan juga menjadi fokus dalam banyak artikel akademik di Indonesia. Laboratorium tanggap darurat diperlukan untuk melakukan uji kualitas air, termasuk deteksi logam berat dan bahan kimia berbahaya. Dalam laporan lingkungan, analisis cepat telah membantu mengidentifikasi sumber pencemaran sehingga tindakan penegakan hukum dapat segera dilakukan. Kolaborasi antara laboratorium, pemerintah daerah, dan masyarakat mempercepat proses pemulihan wilayah tercemar. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan analitik yang responsif menjadi kunci dalam penanganan pencemaran air. 

Selain itu, isu pencemaran laut akibat tumpahan minyak juga menjadi perhatian utama dalam penelitian lingkungan Indonesia. Laboratorium tanggap darurat membantu menilai komposisi minyak, tingkat toksisitas, dan dampaknya terhadap biota laut. Hasil penelitian pada umumnya menekankan bahwa respons cepat sangat menentukan keberhasilan upaya pembersihan. Data laboratorium juga digunakan dalam proses penilaian kerugian lingkungan dan rekomendasi pemulihan. Dengan peran tersebut, laboratorium menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan ekologi Indonesia terhadap insiden lingkungan akut. 

Berdasarkan beberapa insiden yang berkaitan dengan lingkungan yang ada di Indonesia, baru-baru ini ada berita yang ramai diperbincangkan mengenai insiden kebocoran gas di Rungkut, Surabaya (Oktober 2025). Laboratorium lingkungan tanggap darurat bisa sangat berguna untuk menganalisis jenis gas yang keluar dalam semburan, misalnya metana, seperti yang sudah dilaporkan oleh BPBD dan tim pemeriksa. Dengan analisis laboratorium, kadar gas dapat diukur secara kuantitatif untuk menentukan seberapa besar risiko kebakaran atau ledakan. Hasil laboratorium tanggap darurat dapat menjadi dasar ilmiah untuk menilai sejauh mana gas tersebut berbahaya bagi warga (misalnya konsentrasi gas, potensi toksisitas, atau potensi campuran gas berbahaya lain). Data ini sangat penting agar BPBD, PGN, dan instansi lain bisa menentukan zona aman, memberikan peringatan kepada masyarakat, dan menutup area jika diperlukan. Dalam kasus Rungkut, PGN menerjunkan tim tanggap darurat segera setelah laporan semburan, melakukan penggalian dan menutup pipa bocor. Sebuah laboratorium lingkungan tanggap darurat yang aktif bisa menyediakan data cepat untuk membantu tim tanggap, misalnya apakah penutupan pipa sudah efektif atau masih tersisa gas, serta memastikan tidak ada kontaminan lain yang disebabkan oleh kebocoran. Setelah insiden dihentikan (PGN menutup aliran pipa pada 17 Oktober), laboratorium lingkungan bisa melakukan pemantauan lanjutan untuk memverifikasi bahwa tidak ada kebocoran ulang atau akumulasi gas berbahaya di dasar sungai atau sedimen. Selain itu, data laboratorium bisa digunakan sebagai dasar evaluasi perbaikan pipa (rekondisi pipa) dan perencanaan mitigasi jangka panjang agar kejadian serupa tidak terulang. 

Analisis gas di laboratorium lingkungan dilakukan melalui serangkaian tahap teknis yang bertujuan untuk mengidentifikasi jenis gas, konsentrasinya, dan potensi bahayanya terhadap manusia maupun lingkungan. Proses dimulai dari pengambilan sampel menggunakan alat seperti gas canister, tedlar bag, sorbent tube, atau alat pemantau langsung (direct-reading instruments) di lokasi kejadian. Sampel kemudian dibawa ke laboratorium dan dianalisis menggunakan instrumen seperti Gas Chromatography–Mass Spectrometry (GC-MS) untuk senyawa organik volatil (VOC), Gas Chromatography–FID untuk hidrokarbon, atau FTIR untuk mendeteksi spektrum berbagai gas anorganik. Selanjutnya, data hasil analisis dibandingkan dengan nilai ambang batas lingkungan seperti NAB (Nilai Ambang Batas), TLV (Threshold Limit Value), atau standar kualitas udara dari aturan nasional. Hasil interpretasi inilah yang kemudian digunakan untuk menentukan tingkat risiko, radius zona bahaya, tindakan mitigasi, dan rekomendasi teknis bagi tim tanggap darurat di lapangan. 

Parameter uji udara yang mengandung gas dapat berbeda bergantung pada jenis insiden, sumber gas, dan tujuan analisis, tetapi secara umum laboratorium lingkungan menggunakan kelompok parameter berikut :

1. Parameter Fisika

Digunakan untuk menilai kondisi dasar udara dan karakteristik gas

  • Suhu (temperature)
  • Kelembapan relatif (relative humidity)
  • Tekanan udara
  • Kecepatan angin (penting untuk memprediksi sebaran gas)
  • Partikulat (PM2.5 dan PM10) bila gas berasosiasi dengan debu atau aerosol.

2. Parameter Kimia – Gas Anorganik

Digunakan bila sumber gas diduga dari proses industri, pipa gas, atau aktivitas geologi.

  • Methane (CH₄) – indikator utama kebocoran gas bumi.
  • Hydrogen sulfide (H₂S) – gas beracun dari proses migas & geotermal.
  • Carbon monoxide (CO) – produk pembakaran tidak sempurna.
  • Carbon dioxide (CO₂) – pemantauan akumulasi di ruang tertutup atau area cekungan.
  • Nitrogen oxides (NO dan NO₂) – emisi kendaraan/industri.
  • Sulfur dioxide (SO₂) – emisi industri dan pembakaran sulfur.
  • Ozone (O₃) – parameter kualitas udara ambien.
  • Ammonia (NH₃) – umum pada industri pupuk, peternakan, dan insiden kimia.

3. Parameter Kimia – Senyawa Organik Volatil (VOC)

Penting untuk mendeteksi kebocoran bahan bakar, pelarut, dan hidrokarbon gas.

  • Benzene, Toluene, Ethylbenzene, Xylene (BTEX)
  • Propane, Butane, Hexane (komponen LPG dan gas industri)
  • Formaldehyde dan aldehida lain
  • Acetone, toluene, styrene, dan VOC industri lainnya

Analisis biasanya dilakukan menggunakan GC-FID, GC-MS, atau sorbent tube sampling

4. Parameter Keselamatan / Potensi Bahaya

Digunakan dalam situasi tanggap darurat.

  • LEL/UEL (Lower/Upper Explosive Limit) → batas mudah meledak gas.
  • Oksigen (O₂) – kadar minimum keselamatan 19,5%
  • Toxicity Index untuk gas beracun (H₂S, NH₃, CO).
  • VOC total (TVOC) untuk indikasi kontaminasi umum.

5. Parameter Pendukung Lainnya

  • Bau (odor threshold) – digunakan untuk gas seperti H₂S atau VOC tertentu.
  • Kandungan partikulat berbahaya jika gas bereaksi membentuk aerosol.
  • Radon (Rn) – bila terkait geologi atau bangunan tertentu.

Laboratorium lingkungan memiliki peran penting dalam tahap awal krisis pencemaran lingkungan karena mampu melakukan identifikasi cepat terhadap jenis dan tingkat kontaminan. Data yang dihasilkan dari analisis laboratorium memberikan dasar ilmiah bagi otoritas untuk menentukan tingkat bahaya dan prioritas penanganan. Dalam situasi darurat, laboratorium juga berfungsi untuk memastikan bahwa keputusan yang diambil tidak hanya berdasarkan asumsi, tetapi pada fakta yang terukur. Kecepatan analisis menjadi faktor penentu keberhasilan mitigasi dalam mencegah pencemaran meluas. Dengan demikian, laboratorium lingkungan menjadi garda terdepan dalam memberikan informasi akurat selama fase respons awal. 

Selain identifikasi awal, laboratorium lingkungan berperan dalam memetakan sebaran pencemaran untuk mengetahui area terdampak. Pengukuran parameter kualitas air, udara, dan tanah memungkinkan pihak berwenang menilai zona aman dan zona bahaya. Laboratorium juga membantu mendeteksi perubahan konsentrasi bahan berbahaya dari waktu ke waktu sehingga perkembangan pencemaran dapat dipantau. Informasi tersebut sangat penting untuk menentukan strategi evakuasi, pembatasan akses, dan penanganan teknis lainnya. Dengan analisis yang konsisten, laboratorium dapat mendukung pengendalian pencemaran agar tidak meluas ke wilayah yang lebih luas. 

Dalam tahap pemulihan, laboratorium lingkungan berperan memastikan bahwa tindakan remediasi telah menurunkan kadar pencemaran ke batas aman. Laboratorium menilai efektivitas teknologi penanggulangan seperti adsorpsi, aerasi, bioremediasi, atau penutupan sumber pencemar. Selain itu, data analitik digunakan sebagai dasar pelaporan dan pertanggungjawaban hukum terhadap pihak yang menyebabkan pencemaran. Hasil analisis ini juga mendukung perencanaan kebijakan pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang. Dengan peran tersebut, laboratorium lingkungan menjadi komponen penting dalam seluruh siklus manajemen krisis pencemaran, mulai dari deteksi, penanganan, hingga pemulihan.

Daftar Referensi

Antara News. (2025). PGN pastikan tanggap cepat tangani semburan di Sungai Rungkut Surabaya

Artik.id. (2025). Semburan gas Rungkut diduga akibat patahan Kendeng, Armuji imbau warga tidak mendekat

Jawa Timur Antara News. (2025). Pemkot Surabaya pastikan semburan akibat kebocoran pipa gas

Pemerintah Kota Surabaya. (2025). Semburan di Sungai Rungkut dipastikan aman, BPBD Surabaya imbau warga tenang

Ristiana, W. (2010). Gambaran Pelaksanaan Tanggap Darurat Kebocoran Amoniak di Unit Penyimpanan Amoniak PT Petrokimia Gresik. Universitas Sebelas Maret. 

Ulil Albab Institute. (2023). Analisis risiko paparan zat berbahaya di industri kimia dan migas. Jurnal Ilmiah Manajemen. 

Universitas Muhammadiyah. (2024). Analisis risiko pada kilang LPG menggunakan metode SLRA dan simulasi ALOHA. Jurnal Elemen. Institut Teknologi Nasional. (2024). Evaluasi sistem tanggap darurat pada pengelolaan limbah B3 industri gas. Jurnal Rekayasa Hijau.

Scroll to Top
Kirim Pesan
Kirim pesan pada kami
Scan the code
Terima Kasih telah menghubungi kami.